Intrinsix merupakan singkatan dari Informatics Thirty Three – Six, yang artinya adalah Informatika Tiga Tiga Enam. Sesuai dengan kode kelas kami, IF-33-06, Intrinsix bisa disebut sebagai panggilan ‘keren’ bagi kelas kami. Nama ini merupakan buah pikir bersama anak-anak IF-33-06 yang sudah satu hati.
Kami yang diterima di kelas ini berasal dari berbagai wilayah di Indonesia. Ada yang dari Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, dll. Tentu saja mereka tidak sembarang dalam memilih IT Telkom sebagai tempat untuk menuntut ilmu. Berbagai hal telah dipertimbangkan.
Tentu saja hal pertama yang menjadi pertimbangan adalah kualitas IT Telkom. IT Telkom sebagai universitas yang masih terbilang baru, sudah mampu menelurkan lulusan-lulusan yang tidak kalah bersaing dengan lulusan dari universitas lain yang sudah lama berdiri dan ‘bergengsi’. Ditambah lagi dengan integritas dan eksistensi IT Telkom yang tinggi di bidang teknologi informasi dan komunikasi. Berdasarkan hal-hal tersebut, anak-anak Intrinsix tidak ragu untuk datang dari daerah mereka masing-masing ke IT Telkom demi menuntut ilmu. Walaupun ratusan km jarak harus mereka tempuh, baik dari darat, laut maupun udara.
Tetapi tidak sedikit anak-anak intrinsix yang mengaku bahwa mereka ‘tersesat’ di sini. Dengan alasan tidak diterima di SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri), mereka ‘terpaksa’ memilih IT Telkom sebagai tempat untuk menuntut ilmu. Tetapi, setelah beberapa minggu mereka belajar di kampus biru ini dan mengikuti acara PDKT serta Mabim, mereka menyadari bahwa mereka ‘tersesat di jalan yang benar’. Hati dan pikiran mereka telah terbuka setelah mengikuti seluruh rangkaian acara orientasi kampus tersebut.
Di sisi lain, ada juga anak Intrinsix yang lebih memilih Teknik Informatika di IT Telkom dari pada universitas lain yang lebih ‘bergengsi’ di Bandung. Walaupun ia telah dinyatakan lulus di universitas tersebut lewat SNMPTN, ia tetap memilih Teknik Informatika di IT Telkom dengan alasan yang sangat fundamental. Ia mengaku bahwa IT Telkom memiliki potensi yang luar biasa yang belum digali secara optimal.
Setelah beberapa minggu belajar di dalam kelas yang sama, sifat dan kepribadian masing-masing anak Intrinsix mulai teridentifikasi. Anak-anak Intrinsix merupakan anak-anak dengan karakteristik campuran. Ada yang ‘gila’, ada yang jenius, ada yang gokil, ada yang lucu, ada yang ‘maho gadungan’ (manusia homo), dan masih banyak lagi.
Anak-anak Intrinsix selalu bersemangat dalam menjalani kuliah. Bisa dibilang tiada kuliah tanpa pertanyaan kalau Anda berada di Intrinsix. Kami adalah hiu yang selalu haus akan ilmu pengetahuan. Bahkan menurut testimoni salah seorang teman dari kelas lain yang suka ‘ngecek’ kelas lain, kelas kami adalah kelas yang paling ramai dalam menjalani mata kuliah.
Salah satu contoh yang paling terlihat adalah ketika kuliah Kalkulus I. Pada saat itu, ada dua orang yang suka berdebat mengenai matematika, yaitu Fikri si Kuda dan Rama si “Pervy”. Mereka berdua adalah jenius matematika yang kalau sudah berdebat susah dimengerti oleh yang lain dan perdebatan ini sering disebut sebagai peperangan oleh anak Intrinsix yang lain.
Contoh lainnya adalah Bahasa Inggris. Kuliah paling santai di antara kuliah-kuliah yang ada. Ketika kuliah berlangsung, anak-anak intrinsix dibagi menjadi beberapa kelompok dengan nama yang aneh seperti ‘Void’, ‘Anonim’, ‘Honeymoon’, ‘Somebody’, dll. Karena metode mengajar dosennya yang santai, kami sering bercanda ria dan bahkan saling menyindir tetapi hanya bercanda. Meskipun begitu, Bahasa Inggris kami bagus. Ini menandakan bahwa kelas kami bukanlah kelas yang super-serius. Serius boleh, tapi ‘fun’ jangan sampai lupa.
Bukti lain bahwa kelas kami adalah ‘not so serious’ adalah ketika Mocca (Mentoring Kelas) pertama kami. Isinya memang banyak motivasi spiritual-nya, tapi kelas kami banyak bercanda tentang ‘maho gadungan’ antara Rahmat, ketua kita, dan Fajar.
Sampai sekarang, kami sudah merasa dekat antara satu sama lain. Kami pasti akan sedih ketika kelas kami yang pasti akan terpisah nantinya. Sekarang saja, kami sudah merasa kecewa ketika enam anak dari kelas kami harus dipindahkan ke kelas IF-33-07 dan IF-33-08 pada saat kuliah pemrograman komputer dan praktikum. Salah satu anak yang dipindah, Kendy, mengatakan,” Padahal sudah nyaman di IF-33-06, lha dipindah ke kelas laen…” Apa yang ia katakan mewakili teman-temannya yang dipindahkan. Karena kami sudah berpola pikir satu, Intrinsix.
Posted by widi on 12 October 2009 at 06:33
sayang sekali karena tidak setiap mata kuliah kita akan bersama.
tetap semangat ya untuk meramaikan kelas qt.
kalau sepi,ntar dikirain kuburan lagi
Posted by SturmTrupper on 12 October 2009 at 07:02
FIkri si Kuda & Rama si Pervy……bagi-bagi ilmu dong
ngakak gw liatnya =)),
pertamax gan !
Posted by • Adnan • on 12 October 2009 at 07:48
Intrinsix kompak yah. kompak disk. wkwkwk
Posted by Pervy on 12 October 2009 at 18:43
Tersipu-sipu karena dipanggil Pervy…
he…kapan saya pernah berdebat dengan fikri, itu kan bukan debat!!! *duh*
memang saya punya ketertarikan pada ilmu non-aplikatif, tapi ilmu kalkulus saya itu jauh dibawahnya Fikri…{baru nyadar gw, ternyata kadang2 ada saat dimana kata-kata gw, berubah menjadi saya…}
kalian jangan meng”OverEstimated” saya dong…
_SEKIAN_
@Widi:
Emang kapan kelas kita pernah mengalami kesepian???
kayaknya tiap pelajaran selalu ribut deh…